- / / : 081284826829

Manisnya Nilai Iman

Aktivitas membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti itu benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

 Rasulullah Saw. menyebutkan, “Iman itu naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan Laailahaillallah.”


Membangkitkan Nilai Keimanan

Oleh: Arda Dinata


IMAN yang bersemayam dalam diri manusia merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga bagi hidup manusia, setelahnya nikmat hidup. Dan kebanyakan orang sering mengatakan iman itu sebagai nikmat Allah tertinggi nilainya.

           

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Di sini, kita harusnya sadar betul, kalau keimanan itu bisa bertambah dan berkurang, turun naik. Rasulullah Saw. menyebutkan, “Iman itu naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan Laailahaillallah.” Informasi ini patut kita catat betul dalam rangka menjaga kondisi keimanan kita. Hal ini didasarkan karena jalan menuju iman tidak lain adalah:

  • Kita harus memahami betul akan pandangan hidup Tauhid.

  • Realitaskan sikap hidup kita secara proposional. Yakni sikap kita terhadap Allah -sebagai hamba-Nya (QS. 51: 56); terhadap manusia- bermu’amalah (QS. 3: 112, 49: 13); dan terhadap alam  -sebagai khalifah (QS. 2: 30, 4: 36, 3: 112).

  • Iman itu dasar segala amal (QS. 16: 97, 18: 103-105, 24: 39). Jadi, pokok untuk memperbaharui iman itu ialah dengan Laailahaillallah.

Makna Laailahaillallah, diartikan sebagai tidak ada pencipta kecuali Allah (QS. 2: 21), tidak ada pemberi rezki kecuali Allah (QS. 2: 22), tidak ada pemilik kecuali Allah (QS. 3: 26-27), tidak ada yang berhak membuat hukum kecuali Allah (QS. 5: 44-50, 7: 54), tidak ada yang boleh diibadati kecuali Allah (QS. 51: 56), dan tidak ada tujuan kecuali Allah (QS. 94: 8).
           
Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan nilai keimanan seseorang menjadi terarah.

  1. Melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

  1. Melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

  1. Melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih. Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman.

Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuat tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

  1. Melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.
           
Aktivitas membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti itu benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.
           
Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman (memperbaharui keimanan) pada setiap saat. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin. Wallahu a’lam.***

Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

WWW.ARDADINATA.COM